Viral Siswa SMP di Dumai Dibully hingga Tersungkur, DPRD Soroti Pengawasan Sekolah
- calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DUMAI (KABARVIRAL.CO) – Kasus bullying siswa SMP di Medang Kampai, Dumai, viral di media sosial. DPRD Dumai mendesak evaluasi sekolah dan perlindungan serius bagi korban perundungan.
Kasus perundungan atau bullying yang menimpa seorang siswa SMP negeri di Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau, memicu keprihatinan dari masyarakat setelah videonya viral di media sosial, Rabu (6/5/2026).
Dalam rekaman video yang beredar, korban berinisial AFN (13) tampak menjadi sasaran pengeroyokan sejumlah teman sekolahnya. Para pelaku dan korban masih mengenakan seragam sekolah saat insiden terjadi.
Korban sempat berusaha melarikan diri dari lokasi kejadian. Namun, upayanya gagal setelah dikepung beberapa siswa lain. Pukulan bertubi-tubi yang mengarah ke tubuh korban membuat AFN tersungkur ke tanah sambil menangis kesakitan dan memegangi bagian punggungnya.
Kepala Unit Reskrim Polsek Medang Kampai, Ipda Rional Barita Marpaung, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, kejadian itu sebenarnya terjadi sekitar dua pekan lalu dan kini telah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Sudah dilakukan mediasi di Polsek Medang Kampai dan kedua belah pihak sepakat berdamai,” ujar Rional sebagaimana dilansir kompas.com, Rabu.
Ia menjelaskan, pihak korban dan pelaku telah menandatangani surat perdamaian sebagai bentuk penyelesaian perkara.
Meski demikian, kasus tersebut tetap menuai sorotan dari berbagai pihak. Anggota DPRD Kota Dumai, Junjung Mangatas Simorangkir, menilai peristiwa tersebut bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan persoalan serius yang menyangkut perlindungan anak dan keamanan lingkungan pendidikan.
“Negara tidak boleh abai. Apalagi orang tua korban sudah bercerai, seharusnya anak ini mendapat perhatian dan perlindungan ekstra,” tegas Ketua Fraksi Gerindra DPRD Dumai itu.
Junjung mengaku akan mendatangi sekolah tempat korban menimba ilmu dalam waktu dekat. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan kasus dilakukan secara serius, terbuka, dan tidak ditutup-tutupi.
“Kami ingin meminta penjelasan langsung dari pihak sekolah terkait kronologi kejadian, langkah penanganan yang sudah dilakukan, serta bagaimana sistem pengawasan di sekolah berjalan,” katanya.
Ia menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar dan berkembang, bukan justru menjadi tempat terjadinya kekerasan fisik maupun psikologis.
Menurutnya, kasus ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan pembinaan siswa di lingkungan sekolah.
Tak hanya itu, DPRD juga mendorong Dinas Pendidikan Kota Dumai untuk melakukan audit serta evaluasi terhadap manajemen sekolah, termasuk menelusuri kemungkinan adanya kelalaian dalam pengawasan.
“Kalau memang ada kelalaian, tentu harus ada tindakan tegas. Kita tidak ingin kasus seperti ini terulang kembali,” pungkasnya.(red/isa)
- Penulis: Redaksi






