Breaking News
light_mode
Beranda » Teknologi » AI Dinilai Ciptakan Ketimpangan Baru, Kelompok Miskin Terancam Tertinggal

AI Dinilai Ciptakan Ketimpangan Baru, Kelompok Miskin Terancam Tertinggal

  • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA (KABARVIRAL.CO) – Penelitian terbaru mengungkap penggunaan AI berpotensi menciptakan kesenjangan digital baru. Kelompok berpendidikan dan berpenghasilan tinggi dinilai lebih siap memanfaatkan AI dibanding masyarakat berstatus sosial ekonomi rendah.

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara meluas, ternyata dapat menciptakan bentuk kesenjangan digital. Peneliti komunikasi, Profesor Sai Wang dan rekan-rekannya di Hong Kong Baptist University memperingatkan hal ini.
Pasalnya, ia dan tim telah menganalisis data tentang penggunaan AI oleh lebih dari 10.000 warga Amerika. Lantas, analisis tim Profesor Sai Wang mengungkap, orang-orang dengan tingkat pendidikan atau pendapatan yang lebih tinggi cenderung lebih sadar akan AI, lebih familiar dengan AI, dan lebih mungkin menggunakannya daripada mereka yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih rendah.

Para peneliti mendefinisikan kesadaran AI, utamanya merupakan pengetahuan penggunaan teknologi dalam berbagai konteks. Sementara itu, familiaritas dengan AI berkaitan dengan pengetahuan yang dirasakan orang tentang AI, terlepas dari pemahaman mereka yang sebenarnya tentang AI.

Profesor Wang menegaskan, kesenjangan dalam pemanfaatan AI memungkinkan sebagian kelompok untuk keuntungan mereka sendiri, tetapi yang lain tertinggal.

“Menutup kesenjangan kesadaran AI sangat penting, karena jika hanya orang-orang dengan pendapatan atau pendidikan yang lebih tinggi yang menyadari AI dan penggunaannya, ini dapat memperkuat ketidaksetaraan sosial,” jelas Profesor Wang.

“Hal ini memungkinkan beberapa kelompok untuk memanfaatkan teknologi canggih untuk keuntungan mereka, sementara yang lain tertinggal,” imbuhnya, dikutip dari Phys.org.

Contohnya, pelamar kerja yang mengetahui perusahaan-perusahaan menggunakan AI untuk penyaringan, maka dapat lebih menyesuaikan resume mereka. Sebaliknya, mereka yang kurang memiliki pengetahuan akan hal ini, bisa kehilangan peluang tanpa menyadarinya.

Risiko Termanipulasi bagi yang Kurang Beruntung
Wang menegaskan, selain kemampuannya untuk memberdayakan individu, AI juga membawa risiko bahaya.

Ia menjelaskan, orang-orang dengan kesadaran AI yang lebih tinggi, bisa jadi lebih memahami peluang dan risiko AI, misalnya mengenali dan bahkan membuat deepfake. Akan tetapi, mereka yang kurang punya kesadaran AI lebih mungkin untuk tertipu atau dimanipulasi oleh AI.

Dalam studi mereka, Wang dan rekan-rekannya menganalisis data survei tentang pemahaman dan sikap terhadap AI. Data dikumpulkan dari 10.087 orang dewasa di Amerika Serikat oleh American Trends Panel yang representatif secara nasional dan dilakukan oleh Pew Research Center di Washington DC. Status sosial ekonomi responden dinilai berdasarkan tingkat pendidikan dan pendapatan rumah tangga.

Studi sebelumnya menunjukkan orang yang lebih kaya dan lebih berpendidikan, lebih termotivasi untuk memanfaatkan alat AI. Hal ini pada gilirannya meningkatkan kepercayaan diri dalam menggunakan AI. Tren tersebut membantu menjelaskan mengapa pendidikan dan pendapatan muncul sebagai prediktor signifikan penggunaan AI dalam penelitian ini.

Studi Wang dan rekan-rekan juga mengungkapkan temuan yang tak terduga, yaitu familiaritas dengan AI merupakan prediktor kesadaran AI yang lebih kuat daripada penggunaan AI itu sendiri.

“Dengan kata lain, sekadar merasa berpengetahuan atau terinformasi tentang AI lebih erat kaitannya dengan mengenali di mana AI berada dan bagaimana AI digunakan, dibandingkan dengan penggunaan teknologi AI secara pribadi,” kata Wang.

Penjelasan untuk fenomena ini diperkirakan pada bagaimana banyak aplikasi telah terintegrasi AI dengan begitu mulus. Sehingga, penambahan AI tidak terlihat jelas.

“Misalnya, sistem rekomendasi berbasis AI pada platform streaming seperti Netflix atau Spotify menyarankan konten yang disesuaikan dengan selera seseorang,” ucap Wang.

“Namun banyak pengguna tidak menyadari bahwa ini didukung oleh AI dan mungkin melihat rekomendasi sebagai acak atau netral,” lanjutnya.

Bedanya dengan Kesenjangan Digital Tradisional
“Ketidaksetaraan digital tradisional berfokus pada akses, keterampilan/penggunaan, dan hasil-yang semuanya cenderung mengasumsikan pengguna secara sadar terlibat dengan teknologi,” jelas Wang.
“Namun, AI sering kali terintegrasi ke dalam aplikasi dan platform sehari-hari dengan cara yang tidak disadari pengguna; banyak orang berinteraksi dengan AI, seperti melalui umpan media sosial atau rekomendasi streaming, tanpa menyadarinya,” terangnya.

Karena itu, tim menjelaskan, hanya meningkatkan akses ke teknologi berbasis AI mungkin tidak cukup untuk menutup kesenjangan kesadaran ini. Sebagai gantinya, para peneliti merekomendasikan pendekatan tidak langsung untuk mengurangi ketidaksetaraan digital ini, khususnya dengan membiasakan orang-orang dari latar belakang sosial ekonomi rendah dengan isu-isu kunci terkait AI.

“Ini dapat melibatkan kampanye penyuluhan atau lokakarya komunitas yang menggunakan bahasa yang jelas dan contoh praktis untuk membuat AI lebih mudah dipahami dan relevan bagi komunitas berstatus sosial ekonomi rendah,” saran Wang.

Timnya ingin melihat sumber daya yang tersedia dapat meningkatkan keterlibatan dengan topik-topik terkait AI, mengatasi kekhawatiran publik, dan menawarkan panduan tentang penggunaan AI yang etis dan bertanggung jawab. Konsep dasar AI juga disarankan untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan.

Program literasi AI, tambah para peneliti, harus mencakup panduan yang ditargetkan tentang cara mengidentifikasi AI tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari dan memahami fungsi dasarnya.

“Sangat penting untuk berupaya menuju masa depan digital yang lebih inklusif di mana teknologi memberdayakan semua orang dan tidak semakin meminggirkan kelompok mana pun,” simpul para peneliti dalam makalah mereka.

Namun, para peneliti memperingatkan, karena penelitian ini berpusat di AS, maka tidak jelas seberapa umum temuan mereka dapat digeneralisasikan ke negara lain, di mana tingkat adopsinya, dan kesadaran AI mungkin berbeda-beda.

Studi sebelumnya misalnya, menemukan individu dari Korea Selatan, Tiongkok, dan Finlandia memiliki kesadaran AI yang paling tinggi. Sedangkan negara dengan kesadaran rata-rata terendah adalah Belanda.

Penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal Information, Communication & Society dengan judul “Socioeconomic disparities in AI awareness: examining the mediating roles of AI usage and familiarity”.

Dengan selesainya studi awal ini, tim ini sekarang berupaya untuk mengeksplorasi bagaimana ketidaksetaraan digital terwujud dalam konteks AI dan konsekuensi apa yang ditimbulkannya bagi masyarakat.(dtc)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Target Emas di Porprov 2026, Askot PSSI Dumai Cari Talenta Baru di Kejuaraan Futsal

    Target Emas di Porprov 2026, Askot PSSI Dumai Cari Talenta Baru di Kejuaraan Futsal

    • calendar_month Kamis, 19 Sep 2024
    • 0Komentar

      Kabarviral, Dumai – Kejuaraan Futsal Asosiasi Kota Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Askot PSSI) Dumai resmi bergulir dengan semangat tinggi. Sebanyak 24 tim futsal dari berbagai penjuru Kota Dumai siap unjuk gigi dalam ajang yang memperebutkan Piala Bergilir Walikota Dumai. Event yang berlangsung mulai 13 hingga 15 September 2024 ini bukan hanya sekadar kompetisi […]

  • Wanita Asal Medan Tewas Usai Sedot Lemak di Klinik Kecantikan Depok

    Wanita Asal Medan Tewas Usai Sedot Lemak di Klinik Kecantikan Depok

    • calendar_month Sabtu, 27 Jul 2024
    • 0Komentar

    Seorang wanita asal Medan, Sumatera Utara, Ella Nanda Sari Boru Hasibuan (30), tewas diduga akibat malpraktik saat menjalani prosedur sedot lemak di Klinik Kecantikan WSJ Beauty di Kelurahan Beji Timur, Kecamatan Beji, Kota Depok. INSIDEN tragis ini terjadi pada Senin (22/07/2024), mengundang perhatian publik dan menimbulkan pertanyaan mengenai standar keselamatan di klinik kecantikan tersebut. Kabar […]

  • Kejari Bengkalis Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Pupuk Subsidi, Kerugian Negara Rp497 Juta

    Kejari Bengkalis Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Pupuk Subsidi, Kerugian Negara Rp497 Juta

    • calendar_month Kamis, 4 Jul 2024
    • 0Komentar

    Tiga tersangka kasus dugaan korupsi penyaluran dan penjualan pupuk subsidi Tahun Anggaran 2020/2021 di Bengkalis telah ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkalis pada Rabu (3/7/2024). MEREKA adalah DS (48), seorang pengecer pupuk subsidi; FY (41), penyuluh pertanian dan anggota Tim Verifikasi dan Validasi Kecamatan; serta N (60), anggota Tim Verifikasi dan Validasi yang sudah pensiun. […]

  • Ketua LPM Soroti Lambannya Penetapan PJs Penghulu, Singgung Intervensi Tak Sehat di Rokan Hilir

    Ketua LPM Soroti Lambannya Penetapan PJs Penghulu, Singgung Intervensi Tak Sehat di Rokan Hilir

    • calendar_month Senin, 5 Mei 2025
    • 0Komentar

    PANIPAHAN, KABARVIRAL – Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kepenghuluan Panipahan Laut, Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), Muhammad, angkat bicara terkait belum adanya keputusan penetapan Penjabat Sementara (PJs) Penghulu di wilayahnya. Ia menyayangkan lambannya proses dari Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dan menilai ada intervensi tidak sehat yang menjadi penghambat. “Kami melihat ini bukan sekadar kelambanan administratif. […]

  • Jelang HBP ke-62, Lapas Kelas IIA Bagan Siapiapi Gelar Donor Darah Bersama PMI Rohil

    Jelang HBP ke-62, Lapas Kelas IIA Bagan Siapiapi Gelar Donor Darah Bersama PMI Rohil

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • 0Komentar

    kabarViral, Bagan Siapiapi — Dalam rangka menyambut peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagan Siapiapi menggelar kegiatan bakti sosial berupa donor darah. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Rokan Hilir. Kegiatan donor darah tersebut berlangsung dengan penuh antusias, diikuti oleh jajaran pegawai Lapas serta sejumlah warga […]

  • Kontes Kecantikan Transgender Hotel Orchardz Tanpa Izin, Polisi Periksa 5 Saksi

    Kontes Kecantikan Transgender Hotel Orchardz Tanpa Izin, Polisi Periksa 5 Saksi

    • calendar_month Kamis, 8 Agt 2024
    • 0Komentar

    Kontes kecantikan transgender yang digelar di Hotel Orchardz, Jakarta Pusat, menjadi sorotan publik setelah diketahui tidak memiliki izin resmi dari pihak berwenang. Kepolisian telah memeriksa lima orang saksi terkait peristiwa ini. KAPOLSEK Sawah Besar, Kompol Dhanar Dhono Vernandhie, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap dua orang perwakilan dari hotel, tiga orang penyelenggara, serta ketua […]

expand_less