Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Belanda, Tiga Penumpang Tewas, 24 Orang Kini Dilacak di 12 Negara
- calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
- print Cetak

MV Hondius tampak berlabuh di Pelabuhan Praia, Cape Verde, di tengah penyelidikan wabah hantavirus, beberapa waktu lalu. The Guardian
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KANARIA (KABARVIRAL.CO) – Wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bikin dunia waspada. Tiga penumpang meninggal, WHO turun tangan lakukan investigasi lintas negara.
WABAH Hantavirus di kapal milik Oceanwide Expeditions itu kini menjadi perhatian internasional. Rasa trauma pada pandemi Covid-19 ikut memantik kepanikan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun turun tangan. Mereka melakukan investigasi terhadap kematian tiga penumpang kapal pada awal Mei 2026.
Kapal MV Hondius diketahui membawa 149 penumpang dan kru dari 23 negara.
Saat sejumlah penumpang mengalami gejala penyakit serius, kapal sedang berada di sekitar perairan Tanjung Verde, Afrika Barat.
Di tengah kepanikan, cerita para penumpang bermunculan. Mereka berkisah tentang hari-hari penuh ketidakpastian di laut lepas. Tentang rasa takut yang datang perlahan. Tentang kapal yang tetap berjalan normal ketika ancaman sebenarnya belum dipahami sepenuhnya. Kreator konten asal Turki Ruhi Cenet menjadi salah satu penumpang yang membagikan pengalamannya. Dia berada di kapal sejak keberangkatan dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April lalu.
Dalam akun Instagramnya, Cenet menggambarkan suasana awal pelayaran yang terasa biasa saja, bahkan setelah seorang penumpang asal Belanda meninggal pada 11 April. Saat itu, penumpang diberi tahu bahwa kematian tersebut disebabkan faktor alami dan tidak menular. ’’Kami tidak mendapat informasi yang cukup baik,” ujarnya, dilansir People. “Itu sangat menakutkan karena kami sama sekali tidak siap menghadapi situasi seperti ini,” lanjutnya.
Ketegangan makin terasa setelah otoritas kesehatan mengaitkan kasus tersebut dengan virus Andes, satu-satunya jenis Hantavirus yang dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan, insiden di kapal pesiar MV Hondius memang serius. Namun, risiko terhadap kesehatan masyarakat global dinilai masih rendah. WHO mengingatkan potensi penambahan kasus masih terbuka mengingat masa inkubasi virus belum sepenuhnya terlewati. Organisasi kesehatan dunia itu kini mengoordinasikan penanganan lintas negara melalui skema International Health Regulations (IHR). Pejabat kesehatan menduga wabah bermula dari pasangan suami istri asal Belanda yang tertular setelah mengikuti ekspedisi satwa liar di daratan. Keduanya kemudian meninggal dunia.
Evakuasi Ketat
Otoritas Spanyol bersiap menerima para penumpang dan awak MV Hondius di Kepulauan Kanaria hari ini (10/5) waktu setempat. Kapal tersebut dijadwalkan bersandar di Pulau Tenerife, wilayah Spanyol di lepas pantai Afrika Barat.
Dilansir CBC News, para penumpang akan dipindahkan ke area isolasi tertutup dengan pengamanan ketat. Kepala layanan darurat Spanyol Virginia Barcones mengatakan, lokasi isolasi telah dipagari untuk mencegah potensi penularan lebih luas.
Amerika Serikat dan Inggris juga menyiapkan pesawat untuk mengevakuasi warganya. Sementara itu, petugas konsulat Kanada sedang menuju lokasi guna menemui empat warga Kanada yang masih berada di kapal.
WHO kembali menegaskan wabah itu kecil kemungkinan berkembang menjadi pandemi global. ’’Risikonya tetap sangat rendah. Ini bukan Covid baru,” kata juru bicara WHO Christian Lindmeier. Pernyataan tersebut disampaikan setelah seorang pramugari maskapai KLM yang melayani penerbangan penumpang terinfeksi dinyatakan negatif hantavirus. Sebelumnya, kasus itu sempat memicu kekhawatiran mengenai potensi penyebaran lebih luas.
Pelacakan Lintas Benua
WHO dan otoritas kesehatan di empat benua kini memburu jejak kontak penumpang yang sempat turun dari kapal sebelum wabah terdeteksi. Pada 24 April lalu, lebih dari 24 penumpang dari sedikitnya 12 negara meninggalkan kapal tanpa pelacakan karena saat itu belum ada dugaan wabah. WHO baru mengonfirmasi kasus hantavirus pada 2 Mei.
Salah satu penumpang asal Belanda yang terinfeksi sempat terbang dari Johannesburg menuju Amsterdam sebelum kondisinya memburuk dan akhirnya meninggal di Afrika Selatan. Otoritas kesehatan Belanda kini melacak seluruh penumpang yang sempat berkontak dengannya selama penerbangan.
Sementara itu, tiga warga Kanada menjalani isolasi mandiri di Ontario dan Quebec setelah diduga melakukan kontak erat dengan penumpang kapal. Otoritas Inggris juga melaporkan seorang warganya di Tristan da Cunha diduga terinfeksi hantavirus.
Pejabat kesehatan Spanyol turut memeriksa seorang perempuan di Alicante yang mengalami gejala mirip hantavirus setelah berada dalam penerbangan yang sama dengan penumpang Belanda yang meninggal tersebut.
Di Afrika Selatan, pelacakan difokuskan pada penumpang yang turun di Pulau St Helena sebelum melanjutkan penerbangan ke Johannesburg pada 25 April.
Reagen di Indonesia Terbatas, Kemenkes Perkuat Deteksi Dini
Pemerintah mulai menyiapkan langkah antisipasi menyusul merebaknya kasus hantavirus yang menjadi perhatian dunia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memperkuat sistem deteksi dini penyakit tersebut.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan sistem skrining guna mendeteksi hantavirus lebih cepat. Pemeriksaan yang dipertimbangkan antara lain melalui rapid test maupun tes berbasis PCR.
“Ini kan virus yang lumayan berbahaya. Kita sudah koordinasi dengan WHO. Kita minta guidance untuk bisa lakukan screening-nya,” kata Budi.
Menurut dia, Indonesia memiliki keuntungan karena infrastruktur laboratorium PCR sudah jauh lebih siap sejak pandemi Covid-19. Karena itu, proses deteksi virus dinilai dapat dilakukan lebih cepat. ’’Jadi untuk deteksi virus ini harusnya bisa lebih mudah,” ujarnya.
Meski demikian, Budi mengakui, reagen khusus untuk mendeteksi hantavirus belum tersedia luas. Karena itu, pemerintah saat ini fokus memperkuat sistem pengawasan atau surveillance.(lyn/mia/oni/jpg)
- Penulis: Redaksi






