Breaking News
light_mode
Beranda » Daerah » Harga Ayam Potong Tembus Rp40 Ribu, Ekonom Unri Soroti Dampak MBG

Harga Ayam Potong Tembus Rp40 Ribu, Ekonom Unri Soroti Dampak MBG

  • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PEKANBARU (KABARVIRAL.CO) – Harga ayam potong di Pekanbaru melonjak dari Rp25-Rp27 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Ekonom Unri soroti pasokan, MBG, dan rantai distribusi.

Kenaikan harga yang mencapai hampir 48 persen dalam waktu relatif singkat tersebut dinilai menunjukkan adanya tekanan pada sisi permintaan dan pasokan. Kondisi ini tidak hanya berpotensi membebani konsumen rumah tangga, tetapi juga pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan dari penjualan ayam.

Ekonom senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, mengatakan lonjakan harga tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Menurutnya, perubahan harga yang terjadi dalam waktu singkat perlu dilihat dari keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan ayam di pasar.

“Ngeri kali memang lonjakan harga ayam potong di Pekanbaru ini. Dari yang tadinya cuma Rp25 ribu sampai Rp27 ribu per kilogram, sekarang sudah meroket tembus Rp40 ribu per kilogram. Kenaikan hampir 48 persen dalam waktu singkat ini jelas bikin pening kepala, bukan cuma buat emak-emak di dapur, tapi juga buat pedagang kecil,” kata Dahlan, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Dahlan, harga akan terdorong naik ketika permintaan meningkat sementara jumlah barang yang tersedia tidak mampu mengimbanginya. Dalam teori ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai demand-pull inflation, yakni tekanan kenaikan harga yang terjadi ketika pertumbuhan permintaan lebih cepat dibandingkan kapasitas penyediaan barang.

Ia menilai persoalan pasokan ayam di Pekanbaru perlu dilihat secara menyeluruh. Berdasarkan keterangan pedagang yang diterimanya, sebagian pasokan ayam disebut terserap melalui jalur pengadaan dalam jumlah besar sehingga ketersediaan ayam bagi pedagang eceran di pasar tradisional menjadi lebih terbatas.

“Kalau jumlah yang diminta melonjak tetapi barang yang tersedia di pasar seret, otomatis harga melambung. Ini tekanan permintaan yang bertemu dengan keterbatasan pasokan,” ujarnya.

Dahlan juga mengatakan program Makan Bergizi Gratis atau MBG menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam membaca perubahan permintaan ayam. Ia mengacu pada keterangan pedagang di lapangan yang menyebut adanya pasokan ayam yang diambil melalui tengkulak untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.

Menurutnya, apabila penyerapan dalam jumlah besar berlangsung ketika pasokan belum bertambah secara memadai, pedagang pasar tradisional berpotensi kesulitan mendapatkan barang. Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep crowding out effect dalam konteks persaingan memperoleh pasokan.

“Kalau ada pembeli berskala besar dengan sumber daya yang besar, kelompok pembeli lain bisa terdorong ke pinggir. Pedagang yang biasanya mendapatkan pasokan cukup akhirnya menerima lebih sedikit karena stok sudah terserap lebih dulu,” kata Dahlan.

Ia mencontohkan perubahan jumlah pasokan yang diterima pedagang. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, pedagang yang sebelumnya dapat menerima sekitar delapan hingga 10 kotak ayam potong kini hanya memperoleh tiga hingga empat kotak.

Berkurangnya pasokan di tingkat pedagang, kata Dahlan, akan segera tercermin pada harga jual. Pedagang yang memperoleh barang lebih sedikit tetap menghadapi biaya dan risiko yang sama, sementara permintaan konsumen masih ada.

“Dari delapan sampai 10 kotak turun menjadi tiga sampai empat kotak saja. Kalau pasokan berkurang sejauh itu sementara kebutuhan masyarakat tetap ada, tekanan terhadap harga pasti semakin besar,” ujarnya.

Selain permintaan, Dahlan menyoroti persoalan rantai pasok ayam potong. Industri ayam memiliki keterbatasan biologis karena membutuhkan waktu pemeliharaan sebelum dapat dipasarkan. Artinya, ketika permintaan meningkat secara tiba-tiba, produksi tidak dapat langsung ditambah dalam hitungan hari.

Situasi tersebut, menurutnya, dapat menimbulkan supply shock atau guncangan penawaran. Ketika gangguan pasokan terjadi bersamaan dengan peningkatan permintaan, kenaikan harga dapat berlangsung lebih cepat dan lebih tinggi.

“Pasokan ayam tidak bisa serta-merta dilipatgandakan ketika permintaan tiba-tiba naik. Ada siklus produksi yang membutuhkan waktu. Karena itu, kalau permintaan meningkat cepat sementara pasokan tertahan, harga akan terdorong naik,” kata Dahlan.

Dahlan mengatakan pemerintah perlu melihat persoalan harga ayam dari hulu hingga hilir. Pemerintah, menurutnya, tidak cukup hanya memantau harga di pasar atau meminta pedagang menahan harga karena pedagang berada di bagian akhir rantai distribusi.

Ia meminta mata rantai perdagangan ayam, mulai dari peternak, distributor, tengkulak hingga pemasok dalam jumlah besar diperiksa secara transparan. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui titik terjadinya penyempitan pasokan sekaligus memastikan tidak ada distorsi distribusi yang membuat harga semakin tinggi.

“Pemerintah jangan cuma diam atau asal menekan pedagang kecil di pasar tradisional kalau harga naik. Tata kelola dan mata rantai distribusi pangan harus diperiksa secara transparan supaya akar masalahnya ketemu,” ujarnya.

Menurut Dahlan, pemerintah juga perlu memperkuat produksi dan logistik sebelum menjalankan kebijakan yang berpotensi meningkatkan permintaan dalam jumlah besar. Dengan begitu, kebutuhan program pemerintah dapat dipenuhi tanpa mengurangi pasokan untuk pasar umum.

Ia menilai MBG merupakan program yang memiliki tujuan baik dan perlu didukung. Namun, keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan bahan pangan bagi penerima manfaat. Dampaknya terhadap harga dan ketersediaan pangan di pasar juga perlu diperhitungkan.

“Niat mulia dari program MBG untuk mengerek gizi anak bangsa tentu harus didukung penuh. Tetapi eksekusinya wajib dibarengi dengan penguatan produksi dan logistik yang matang,” kata Dahlan.

Ia mengingatkan pemerintah agar tidak membiarkan pedagang kecil dan konsumen menjadi pihak yang menanggung dampak dari perubahan struktur permintaan. Menurutnya, kebijakan pangan harus mampu menjaga dua kepentingan sekaligus, yakni memenuhi kebutuhan program pemerintah dan memastikan masyarakat tetap memperoleh pangan dengan harga terjangkau.

“Jangan sampai program pemerintah berjalan sukses, tetapi rakyat kecil di pasar malah dikorbankan dan dipaksa menanggung beban harga pangan yang makin mencekik,” ujar Dahlan.(red/isa)

Sumber: riauaktual.com

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Guru SD di Wonosobo Tertangkap Basah Makan dengan Suami Orang, Videonya Viral di TikTok

    Guru SD di Wonosobo Tertangkap Basah Makan dengan Suami Orang, Videonya Viral di TikTok

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
    • 0Komentar

    KABARVIRAL – Viral di media sosial, seorang guru SD di Wonosobo tertangkap basah makan bersama pria beristri. Aksi istri sah yang memergoki keduanya di kafe terekam video dan menuai lebih dari 1,4 juta tontonan di TikTok, memicu beragam reaksi warganet. Dalam video yang diunggah ke akun TikTok @diniandriani936, tampak istri sah bersama anaknya mendatangi pasangan […]

  • AI Dinilai Ciptakan Ketimpangan Baru, Kelompok Miskin Terancam Tertinggal

    AI Dinilai Ciptakan Ketimpangan Baru, Kelompok Miskin Terancam Tertinggal

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAKARTA (KABARVIRAL.CO) – Penelitian terbaru mengungkap penggunaan AI berpotensi menciptakan kesenjangan digital baru. Kelompok berpendidikan dan berpenghasilan tinggi dinilai lebih siap memanfaatkan AI dibanding masyarakat berstatus sosial ekonomi rendah. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara meluas, ternyata dapat menciptakan bentuk kesenjangan digital. Peneliti komunikasi, Profesor Sai Wang dan rekan-rekannya di Hong Kong Baptist University memperingatkan hal […]

  • Longsor di Eks Tambang Emas Solok, 15 Orang Meninggal Dunia

    Longsor di Eks Tambang Emas Solok, 15 Orang Meninggal Dunia

    • calendar_month Minggu, 29 Sep 2024
    • 0Komentar

    Kabarviral, Solok – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok mengonfirmasi bahwa 15 orang meninggal dunia akibat tertimbun longsor di bekas tambang emas di Nagari Sungai Abu, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Peristiwa nahas tersebut terjadi pada Kamis (26/09/2024) sore. Kepala BPBD Kabupaten Solok, Irwan Effendi, menyampaikan bahwa hingga Jumat (29/09/2024) pukul 13.40 […]

  • Tewas Gantung Diri di Pohon

    Pria di Mundam Ditemukan Tewas Gantung Diri, Diduga Akibat Depresi

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • 0Komentar

    kabarViral – Seorang pria bernama Zul (52) ditemukan meninggal dunia di kebun sawit belakang rumah warga di Jalan Arifin Ahmad, Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Sabtu (20/12/2025) sekitar pukul 15.30 WIB. Kapolres Dumai melalui Kapolsek Medang Kampai, Iptu Supri, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Berdasarkan keterangan saksi dan hasil pemeriksaan awal, korban diduga mengakhiri […]

  • 38 PMI Ilegal Dideportasi dari Malaysia Tiba di Dumai, Satu Orang Alami Gangguan Jiwa

    38 PMI Ilegal Dideportasi dari Malaysia Tiba di Dumai, Satu Orang Alami Gangguan Jiwa

    • calendar_month Minggu, 24 Agt 2025
    • 0Komentar

    PEKANBARU, KABARVIRAL – Sebanyak 38 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dideportasi dari Malaysia tiba di Pelabuhan Internasional Dumai, Riau, pada Sabtu (23/8/2025) sore. Kedatangan para PMI terkendala ini difasilitasi oleh Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) melalui UPT BP3MI Riau, bekerja sama dengan berbagai instansi terkait. Menurut Kepala BP3MI Riau, Fanny Wahyu Kurniawan, pemulangan ini […]

  • Bocah 6 SD di Pekanbaru Tewas, Diduga Dirundung Teman Sebaya

    Bocah 6 SD di Pekanbaru Tewas, Diduga Dirundung Teman Sebaya

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2025
    • 0Komentar

    kabarViral – Seorang siswa kelas 6 SD di Pekanbaru meninggal diduga akibat bullying atau perundungan. Pemerintah kota dan Dinas Pendidikan turun tangan, sementara penyelidikan mendalami kronologi perundungan di sekolah. Siswa kelas 6 Sekolah Dasar (SD) 108 Pekanbaru, Riau diduga meninggal dunia karena menjadi korban bullying. MA yang berusia 13 tahun meninggal dunia Minggu (23/11/2025). Ia […]

expand_less