Kontroversi PPDB SMKN 2 Dumai: Orang Tua Keluhkan Praktik Nepotisme
- calendar_month Rabu, 24 Jul 2024
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2024 di SMK N 2 Dumai kembali menuai kontroversi. Banyak orang tua calon siswa mengeluhkan sistem PPDB yang dinilai tidak adil dan sarat dengan praktik nepotisme.
MESKIPUN nilai akademik anak-anak mereka memenuhi kriteria, banyak yang gagal diterima di sekolah teknik menengah ini. Sebaliknya, siswa dengan nilai yang lebih rendah justru lolos seleksi. Hal ini memicu kecurigaan bahwa banyak siswa yang diterima merupakan “siswa titipan”.
Menurut informasi yang dihimpun, siswa titipan ini diduga merupakan anak-anak dari pejabat dan oknum pengurus komite. Akibatnya, banyak siswa lain yang seharusnya layak diterima harus gigit jari.
Kepala Sekolah SMKN 2 Dumai, Zulkarnaen Nasution, ketika dikonfirmasi mengenai isu siswa titipan, mengaku tidak bisa memberikan penjelasan yang pasti. “Ini tidak bisa saya beri tanggapan kecuali jelas orang yang dimaksud biar jelas pula saya mengkonfirmasinya, sehingga tidak ambigu,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Rabu (17/07/2024).
Terkait adanya siswa titipan dari pejabat maupun oknum komite, Zulkarnaen tidak memberikan konfirmasi maupun bantahan.
“Terimakasih sudah konfirmasi, namun saya belum bisa memberi klarifikasi, tanggapan atau informasi karena saya tidak tahu oknumnya ini siapa. Ini saya lanjutkan ke ketua komite saja biar kami tahu siapa oknumnya. Kalau sudah jelas tentu dapat kami konfirmasi pula dengan baik,” tambahnya.
Jawaban kepala sekolah ini seolah mengisyaratkan adanya siswa titipan yang diakomodir, meski tidak secara langsung membenarkan informasi tersebut. Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau ketika dikonfirmasi, juga tidak memberikan keterangan lebih lanjut, namun mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan. “Terimakasih informasinya,” jawabnya singkat.
Aroma nepotisme di PPDB 2024 ini tidak hanya terjadi di SMK N 2 Dumai, tetapi diduga juga terjadi di hampir seluruh SMK/SMA di Dumai. Meskipun tidak signifikan, hal ini tetap menjadi perhatian serius karena merugikan banyak siswa yang harus bersekolah jauh dari rumah mereka dengan biaya yang lebih mahal.
Kisruh PPDB ini menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan keadilan dalam proses penerimaan siswa baru. Harapan orang tua agar anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah favorit pun kembali terancam oleh praktik-praktik yang tidak sehat.(Red/Isa)
- Penulis: Redaksi






