Ketika PMT Tersendat, Perempuan Wirani Rejosari Temukan Jalan untuk Bangkit
- calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
- print Cetak

Kader Posyandu Kelurahan Tanjung Palas yang tergabung dalam Kelompok Wirani Rejosari dan UMKM JELITA berhasil mengolah bahan pangan lokal seperti ikan patin dan sorgum menjadi hidangan lezat berdaya jual, termasuk sate bakso patin bakar. Dukungan dapur produksi modern dari Pertamina, pelatihan intensif, serta kepemilikan izin PIRT dan sertifikat Halal sukses mentransformasi mereka menjadi pelaku UMKM yang mandiri.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Siapa sangka, berawal dari kegelisahan akan tersendatnya Dana Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Posyandu pada tahun 2025, sekelompok ibu-ibu di Kelurahan Tanjung Palas, Kota Dumai, Riau, justru menciptakan gerakan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Kelompok Wirausaha Wanita (Wirani) Rejosari, yang awalnya dibentuk untuk menyelamatkan asupan gizi balita dan lansia, kini berhasil melahirkan gerakan ekonomi perempuan yang menembus panggung nasional.
Laporan: IRMEN SANI, Dumai
Membawa merek UMKM JELITA (Jajanan Enak, Lestari, Inovatif, Tinggi Asupan), produk olahan sorgum karya perempuan Dumai ini sukses tampil eksis di tengah ratusan UMKM unggulan nasional di Pekanbaru belum lama ini. Aneka kudapan sehat seperti biskuit sorgum kaya zat besi, brownies, hingga keripik sorgum buatan ibu-ibu Wirani Rejosari ludes terjual dan membukukan transaksi jutaan rupiah selama tiga hari pameran.
Pencapaian manis di ajang pameran nasional ini bukanlah keberhasilan yang datang tiba-tiba. Di bawah kepemimpinan Jummi Sulistiani, sepuluh perempuan yang tergabung dalam Kelompok ini bahu-membahu memanfaatkan teknologi pertanian modern, olahan pangan lokal, hingga energi baru terbarukan.
Kelompok yang didirikan pada 2025 ini merupakan wujud keberlanjutan dari Kelompok Sehati binaan PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai yang sebelumnya berfokus pada penanganan stunting.
“Kemarin kenapa kita bentuk Wirani? Karena kita terkendala masalah PMT di Posyandu,” kenang Jummi saat menceritakan awal mula terbentuknya kelompok tersebut.
Saat dana PMT di Posyandu sempat mandek, para kader tidak tinggal diam. Mereka memutar otak agar tumbuh kembang balita di wilayah mereka tidak terabaikan. Proposal pun diajukan ke Pertamina untuk menjadi mitra binaan.
“Alhamdulillah disetujui. Dari sana kita dapat hidroponik, panel surya, sekaligus dapur produksi,” tambah Jummi.
Kini, pekarangan rumah warga disulap menjadi lahan hidroponik produktif dengan total 720 lubang tanam. Setiap bulannya, sistem hidroponik ini mampu memanen sekitar 40 hingga 50 kilogram sayuran segar seperti pakcoy dan selada secara bergantian.
Menariknya, seluruh keuntungan dari pertanian hidroponik ini dialokasikan untuk mendukung dua kelompok rentan yakni balita dan lansia di wilayah Posyandu Rejosari serta Posyandu Seri Pulau.
Dampaknya sangat terasa. Kehadiran makanan tambahan bergizi dari hasil hidroponik berhasil mendongkrak tingkat kunjungan masyarakat ke Posyandu secara drastis. Dari yang semula hanya dihadiri 10 hingga 15 balita, kini melesat hingga di atas 50 balita.
Tak hanya balita, para lansia pun mendapatkan perhatian khusus berupa pemeriksaan kesehatan gratis seperti cek kolesterol, asam urat, dan gula darah.
“Masyarakat, terutama lansia, kebanyakan kolesterol tinggi tapi mereka enggak tahu. Kalau mau ngecek mandiri terkendala biaya. Makanya kita sediakan dari hasil hidroponik ini,” jelasnya.
Selain bertani hidroponik, Wirani Rejosari juga melebarkan sayap di bidang olahan UMKM pangan lokal berbasis sorgum. Bahan baku sorgum dipasok langsung dari Kelompok Alam Tani, kelompok binaan Pertamina lainnya yang sukses membudidayakan sorgum di lahan gambut pertama di Riau.

Anggota Kelompok Wirani Rejosari meninjau kebun hidroponik di pekarangan rumah di Kelurahan Tanjung Palas Dumai. Instalasi hidroponik dengan 720 lubang tanam ini merupakan program TJSL PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai yang beroperasi menggunakan energi baru terbarukan dari panel surya, menekan biaya listrik operasional hingga nyaris nol. Hasil panen sayuran segar dialokasikan sepenuhnya untuk mendukung Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan lansia rentan di wilayah tersebut.
Dari kolaborasi antarkelompok binaan ini, tangan dingin ibu-ibu Rejosari mengolah biji sorgum menjadi aneka kudapan lezat dan bernilai gizi tinggi, seperti biskuit, brownies, hingga keripik sorgum.
Sorgum sendiri dipilih karena kaya akan manfaat kesehatan. Selain tinggi serat dan rendah gula yang aman bagi penderita diabetes, sorgum juga kaya akan zat besi sehingga sangat cocok diberikan kepada balita yang mengalami kurang gizi.
“Biskuit sorgum itu juga kita berikan ke balita-balita kurang gizi di Posyandu,” tutur Jummi.
Tak hanya olahan sorgum, kelompok ini juga mengolah hasil perikanan seperti bakso patin dan nugget patin sebagai variasi menu PMT sekaligus produk komersial.
Daya tarik utama dari instalasi hidroponik Wirani Rejosari terletak pada efisiensi energinya. Dengan dukungan panel surya dari Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai, tagihan listrik operasional hidroponik yang tadinya mencapai Rp700 ribu per bulan kini berhasil ditekan nyaris menjadi nol rupiah.
Sistem panel surya ini menyimpan energi listrik ke dalam baterai selama siang hari untuk digunakan pada malam hari. Sambungan listrik PLN hanya dimanfaatkan sebagai cadangan apabila cuaca mendung atau hujan berlangsung selama dua hari berturut-turut.
Secara finansial, berbagai unit usaha yang dijalankan kelompok ini—yang beranggotakan 10 orang ibu rumah tangga ini mampu mencatatkan akumulasi pendapatan sekitar Rp40 juta dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Namun, dampak terbesar yang dirasakan masyarakat bukanlah sekadar angka rupiah, melainkan kesehatan generasi penerus. Kehadiran Wirani Rejosari berhasil berkontribusi nyata pada penurunan angka stunting di wilayah setempat di mana seluruh dari 8 anak yang sebelumnya terindikasi stunting kini telah kembali tumbuh normal.
Pemberdayaan Tanpa Batas
Dukungan dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai menjadi angin segar yang mempercepat laju pemberdayaan Wirani Rejosari. Tak hanya bertani melalui kebun hidroponik, kelompok ini juga memanfaatkan sorgum hasil panen lahan gambut untuk diolah menjadi beragam produk makanan bernilai gizi tinggi melalui merek UMKM JELITA (Jajanan Enak, Lestari,Inovatif, Tinggi Asupan).
Perjalanan Wirani Rejosari kian mantap saat memasuki sektor UMKM dengan hadirnya fasilitas dapur produksi terpadu. Lebih dari sekadar tempat mengolah biskuit sorgum, brownies, keripik, hingga olahan patin, dapur produksi ini menjadi ruang tempat para perempuan belajar, bekerja, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Jaminan kualitas pun semakin teruji lantaran seluruh produknya telah mengantongi sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan label Halal, didukung peningkatan keterampilan anggota melalui berbagai pelatihan seperti pembuatan pastry.
Transformasi pesat Kelompok Wirani Rejosari mendapat apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Tanjung Palas. Lurah Tanjung Palas, Herfina Herman, yang baru sekitar satu bulan bertugas di wilayah tersebut mengaku terkesan melihat dinamika para kader posyandu yang mampu bertransformasi menjadi penggerak ekonomi warga.
“Saya cukup kaget melihat perkembangannya. Luar biasa, yang awalnya kader posyandu kemudian bisa berkembang pesat menjadi kelompok mandiri yang memiliki hidroponik dan unit UMKM,” ujar Herfina.
Bagi Herfina, keterlibatan aktif ibu-ibu dalam kelompok ini menjadi bukti konkret betapa besarnya potensi perempuan dalam mendorong kesejahteraan lingkungan sekitar. Keterampilan yang terus diasah serta ketekunan anggota kelompok berhasil mengubah kegiatan pelayanan sosial menjadi unit usaha yang produktif.
“Sekarang kita melihat perempuan-perempuan yang sangat aktif dan mampu mengembangkan kegiatan produktif bagi masyarakat. Ini membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi motor penggerak perubahan di lingkungannya,” puji Herfina.
Ia menegaskan, keberhasilan ini tak lepas dari sinergi kokoh antara masyarakat, pemerintah, dan Pertamina. Saling dukung lintas sektor tersebut diyakini mampu menjadikan Wirani Rejosari sebagai percontohan dan menginspirasi kelompok perempuan lainnya di wilayah lain.

Kelompok Wirani Rejosari saat memperkenalkan produk olahan sorgum merek UMKM JELITA dalam ajang Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026 di Living World Pekanbaru. Selama tiga hari pameran, aneka kudapan sehat berbasis sorgum karya perempuan Dumai ini ludes terjual, membuktikan keberhasilan UMKM binaan naik kelas ke panggung nasional dan membuka peluang pasar serta business matching yang lebih luas.
Komitmen pembinaan ini juga ditegaskan oleh Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum. Ia menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak boleh berhenti pada penyerahan fasilitas semata.
“Kami ingin program pemberdayaan ini tidak berhenti pada penyerahan fasilitas semata. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan fasilitas tersebut, meningkatkan keterampilan, dan menciptakan manfaat yang berkelanjutan,” tegas Tengku Muhammad Rum.
Ia menambahkan, Kelompok Wirani Rejosari menjadi contoh nyata bagaimana kegiatan sosial, ketahanan pangan, energi terbarukan, dan UMKM dapat berjalan selaras. “Ketika semua elemen ini dapat berjalan bersama, dampaknya tentu menjadi jauh lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Puncak dari proses panjang tersebut terbukti saat Kelompok Wirani Rejosari melalui UMKM JELITA melangkah ke panggung nasional lewat Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026 yang mengusung tema “Lokal Jadi Vokal” di Living World Pekanbaru pada 25–27 September 2026. Kehadiran mereka di perhelatan tahunan yang digagas Pertamina sejak 2020 ini menjadi sarana penting untuk memperluas akses pasar, digitalisasi, serta membuka peluang business matching.
Bagi Yani, keikutsertaan di pentas nasional ini memberikan kesan yang sangat mendalam. Ajang ini tidak sekadar menjadi tempat berjualan, melainkan arena belajar untuk berani membangun jejaring bisnis yang lebih besar.
“Bagi kami, ini adalah tentang keberanian untuk melangkah, belajar, dan memperkenalkan mimpi kecil kami kepada lebih banyak orang. Ada rasa bangga dan haru ketika produk kami dihargai, apalagi ketika ada yang tertarik dan bertanya tentang perjuangan kami,” ungkap Yani dengan penuh haru.
Meski menyadari masih banyak masyarakat yang belum familiar dengan tanaman sorgum, Yani melihat tantangan tersebut sebagai pelecut semangat untuk terus bersosialisasi dan mengedukasi publik.
“Kami yakin keberhasilan pertama adalah ketika orang mulai mengenal, mendengar, dan percaya pada cerita kita. Dan kami sudah berhasil melewati satu tahapan tadi. Kami percaya, suatu hari nanti mimpi besar kami akan menjadi nyata,” tambahnya.
Dari halaman rumah dan kebun hidroponik hingga panggung pameran nasional, Kelompok Wirani Rejosari telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Melalui keberanian untuk belajar dan berjejaring, para perempuan ini telah berdiri tegak sebagai penopang ekonomi keluarga sekaligus pilar ketahanan pangan di daerahnya.***
- Penulis: Redaksi




