Sudah Melengkung Sejak Juni, Dermaga Pelabuhan Tanjung Buton Akhirnya Rubuh
- calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
- print Cetak

Dermaga Pelabuhan Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB) Kabupaten Siak rubuh. Nahas, satu unit mobil ikut jatuh bersama runtuhnya dermaga, Senin (5/1/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
kabarViral — Dermaga Pelabuhan Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB) di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau, akhirnya rubuh pada Senin (5/1/2026) sore. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.44 WIB dan sempat membuat panik para pekerja di kawasan pelabuhan.
Nahas, satu unit mobil ikut terjatuh bersama runtuhnya dermaga. Sementara tiga unit kendaraan lainnya masih berada di seberang dermaga dan terpisah akibat patahnya struktur pelabuhan.
Pantauan di lapangan, pelabuhan berbentuk huruf T tersebut patah di bagian ujung jika dilihat dari pangkal. Sementara bagian yang melintang terpisah, dengan panjang dermaga yang runtuh diperkirakan mencapai sekitar 50 meter.
Penanggung jawab Pelabuhan KITB, Andi Putra, mengungkapkan bahwa kondisi dermaga sebenarnya sudah menunjukkan kerusakan sejak Juni 2025. Bahkan, pihaknya telah menyurati Kementerian Perhubungan terkait kondisi tersebut.
“Dermaga sudah melengkung sejak Juni lalu dan kami sudah menyampaikan laporan ke pusat. Survei dilakukan setiap hari, namun pengecekan harus dibuktikan secara teknis, tidak cukup hanya foto dan video,” ujar Andi Putra.
Ia menyebutkan, pihaknya telah meminta agar tim dari Kementerian Perhubungan turun langsung ke lokasi. Namun, sebelum pemeriksaan teknis menyeluruh dilakukan, dermaga terlanjur rubuh.
“Tim KSOP Sungai Pakning baru selesai melakukan pemeriksaan sekitar pukul 13.30 WIB. Tidak lama kemudian, dermaga patah,” katanya.
Patahnya trestel Pelabuhan Tanjung Buton juga dibenarkan Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Tanjung Buton, Kapten Pujo Junianto. Ia menjelaskan kejadian berlangsung secara tiba-tiba setelah kegiatan pemeriksaan selesai.
“Kejadiannya sekitar pukul 15.44 WIB, saat kegiatan pemeriksaan sudah selesai pukul 14.35 WIB. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa maupun muatan cangkang yang jatuh ke laut,” ujarnya.
Kapten Pujo menambahkan, kondisi kemiringan dan kerusakan trestel pelabuhan memang telah berlangsung cukup lama. Sejak menjabat sebagai Kepala KSOP pada Mei 2025, ia mengaku langsung melaporkan kondisi tersebut ke Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
“Saya sudah meminta arahan dan petunjuk lebih lanjut ke Dirjen Hubla,” jelasnya.
Sambil menunggu evaluasi dari kantor pusat, KSOP Tanjung Buton sebelumnya telah melakukan sejumlah langkah mitigasi. Di antaranya mengurangi 50 persen volume muatan truk yang melintas di trestel, memberlakukan jalur satu arah, serta berkoordinasi dengan para pelaku usaha agar beralih menggunakan konveyor atau pelabuhan lain.
“Tujuannya agar kegiatan logistik tetap berjalan dengan aman,” kata Pujo.
Namun, pasca kejadian rubuhnya dermaga, seluruh aktivitas di Pelabuhan Tanjung Buton untuk sementara dihentikan. Hal ini dilakukan sambil menunggu proses investigasi dari kantor pusat.
“Untuk sementara kegiatan di pelabuhan dihentikan. Bagi kapal yang sudah terjadwal masuk, kami minta agar mengalihkan kegiatannya ke pelabuhan terdekat karena kondisi force majeure,” ujarnya.
Sementara itu, Andi Putra menambahkan asosiasi pengusaha cangkang tengah memikirkan solusi agar proses pemuatan tetap bisa berjalan, mengingat seluruh jadwal pengiriman telah tersusun.
“Kami akan bersurat ke Kementerian Perhubungan. Jika tidak ada gerak cepat, dampaknya bisa sangat besar bagi pelaku usaha,” katanya.**
Sumber: riaupos.co
- Penulis: Redaksi






