Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » Minyak Jelantah Terbang Lebih Jauh, Kilang Dumai Cetak Sejarah ASEAN

Minyak Jelantah Terbang Lebih Jauh, Kilang Dumai Cetak Sejarah ASEAN

  • calendar_month 2 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Minyak jelantah kini menemukan jalan baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Limbah dapur yang selama ini kerap dibuang begitu saja kini berhasil diolah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Di Kota Dumai, Riau, terobosan ini menjadi babak baru industri energi nasional setelah Pertamina Kilang Dumai berhasil mengembangkan SAF berbahan baku minyak jelantah, sekaligus mencatatkan sejarah sebagai kilang pertama di ASEAN yang menggunakan teknologi hydrocracking untuk mengolah bahan baku tersebut.

Laporan: IRMEN SANI, Dumai

Inovasi tersebut resmi diperkenalkan Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, saat melakukan kunjungan kerja Management Walkthrough (MWT) ke Kilang Putri Tujuh Dumai, Kamis (15/10/2026). Melalui teknologi co-processing dengan mencampurkan 5 persen minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) pada unit Hydrocracker Unibon (HCU) #212, Pertamina Kilang Dumai membuktikan bahwa limbah rumah tangga dapat diolah menjadi energi bernilai tinggi untuk mendorong transformasi industri penerbangan menuju masa depan yang berkelanjutan.

Keberhasilan ini bukan sekadar inovasi dalam mengolah bahan baku alternatif. Di tengah tuntutan global untuk menekan emisi karbon sektor penerbangan, SAF produksi Kilang Dumai hadir membawa potensi pengurangan emisi hingga 81 persen. Capaian tersebut sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan, dengan Kilang Dumai menjadi salah satu motor penggerak transformasi energi yang memadukan keandalan teknologi, pemanfaatan limbah, dan peluang ekonomi baru.

Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengapresiasi kerja keras para Perwira Kilang Dumai yang berhasil menghadirkan inovasi tersebut. Menurutnya, keberhasilan mengembangkan SAF dengan campuran minyak jelantah 5 persen menunjukkan kemampuan Pertamina menjawab tantangan kebutuhan energi masa depan. Namun, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan produksi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada ketersediaan bahan baku yang terjamin dan memenuhi standar sertifikasi internasional.

“Kini, kita fokus dalam strategi bagaimana mendapatkan feedstock yang sustain dan tentunya tersertifikasi, karena ini bisa menjadi revenue industri yang baru di Indonesia,” ujar Taufik.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tantangan berikutnya bukan sekadar memproduksi bahan bakar ramah lingkungan, melainkan membangun rantai pasok minyak jelantah yang berkelanjutan. Jika dikelola secara konsisten, limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan berpeluang menjadi komoditas bernilai ekonomi sekaligus menopang pengembangan industri bahan bakar penerbangan jangka panjang di Tanah Air.

Di balik terobosan tersebut, ada proses operasional berteknologi tinggi yang dilalui. Perjalanan minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat melewati serangkaian proses industri yang presisi. Minyak bekas yang diangkut menggunakan truk terlebih dahulu dialirkan ke tangki penampungan khusus berkapasitas total 136 kiloliter. Dari sana, bahan baku kemudian diinjeksikan ke unit pengolahan sebelum dicampur dengan komponen minyak fosil melalui teknologi co-processing. Proses ini berlangsung di unit Hydrocracker Unibon (HCU) #212, tempat campuran tersebut diolah menjadi SAF dan green diesel yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Produk Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah yang dikembangkan Pertamina Kilang Dumai melalui teknologi co-processing dengan campuran UCO sebesar 5 persen. Inovasi ini menjadi langkah strategis dalam mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Namun, mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat bukan perkara mencampurkan dua jenis minyak lalu mengolahnya di kilang. Produk yang dihasilkan harus melewati pengujian ketat untuk memastikan kualitas, keamanan, dan kesesuaiannya dengan standar penerbangan internasional. SAF Kilang Dumai telah mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) EU dan ISCC CORSIA. Hasil pengujian laboratorium independen Intertek juga menyatakan seluruh parameter mutu produk memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan, memperkuat kesiapan SAF Pertamina untuk memasuki pasar global.

Salah satu parameter yang mencuri perhatian adalah titik beku atau freezing point SAF Kilang Dumai yang mencapai minus 59 derajat Celsius. Angka ini lebih rendah daripada batas maksimal minus 47 derajat Celsius yang ditetapkan dalam standar mutu yang dirujuk. Karakteristik tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahan bakar tetap memenuhi kebutuhan operasional penerbangan pada suhu rendah. Selain itu, hasil pengujian menunjukkan kandungan Unconverted Fatty Acid (UFA) berada di bawah 10 miligram per kilogram, lebih rendah daripada ambang batas maksimal 15 miligram per kilogram. Rangkaian hasil pengujian ini menegaskan pentingnya pengendalian mutu dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berbasis bahan baku terbarukan.

Pencapaian Kilang Dumai tidak lahir dalam semalam. Pengembangan bahan bakar nabati untuk sektor penerbangan telah dirintis Pertamina sejak 2019 melalui pemanfaatan Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO) untuk memproduksi green diesel atau D100. Riset tersebut berlanjut pada 2020–2021 melalui uji coba bioavtur J-2.4 dengan campuran RBDPO sebesar 2,4 persen. Hasilnya, bahan bakar tersebut berhasil menjalani uji terbang menggunakan pesawat CN 235-220 milik PT Dirgantara Indonesia (PTDI), membuka jalan bagi pengembangan bahan bakar penerbangan berbasis sumber daya terbarukan di Indonesia.

Perjalanan riset itu kemudian berlanjut dari tahap pengujian menuju penggunaan komersial. Pada 2023, bioavtur J-2.4 mulai digunakan dalam penerbangan Garuda Indonesia dengan pesawat Boeing 737-800. Dua tahun berselang, pengembangan SAF berbahan baku minyak jelantah memasuki tahap baru melalui implementasi campuran UCO sebesar 3 persen pada penerbangan komersial Pelita Air menggunakan Airbus A320. Rangkaian capaian tersebut menjadi pijakan bagi Pertamina untuk meningkatkan pemanfaatan minyak jelantah hingga 5 persen melalui teknologi co-processing pada 2026, yang diterapkan di Kilang Dumai dan Kilang Cilacap.

Peningkatan pemanfaatan minyak jelantah tersebut turut memperkuat peran Kilang Dumai dalam peta produksi energi nasional. Dengan kapasitas pengolahan mencapai 170 ribu barel per hari (MBSD), kilang ini tercatat sebagai kilang minyak terbesar ketiga di Indonesia dan menyumbang sekitar 16,5 persen dari total kapasitas kilang Pertamina. Untuk produk SAF, Kilang Dumai memiliki kapasitas produksi 11,3 MBSD. Jika digabungkan dengan Kilang Cilacap yang berkapasitas 9 MBSD, total kapasitas produksi SAF Pertamina mencapai 20,3 MBSD, menjadi modal penting untuk mendukung pengembangan pasar bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia.

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai, Iwan Kurniawan, mengatakan keberhasilan pengembangan SAF berbahan baku minyak jelantah menunjukkan kesiapan kilang menghadapi perubahan industri energi global. Menurutnya, persiapan menyeluruh, mulai dari uji coba teknologi hingga pemenuhan sertifikasi keberlanjutan, menjadi bagian penting untuk memastikan produk memenuhi persyaratan pasar internasional. Dengan bekal tersebut, Kilang Dumai tidak hanya memperluas portofolio produk energi, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil bagian lebih besar dalam rantai pasok bahan bakar penerbangan rendah karbon.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Kilang Dumai adaptif terhadap tantangan transformasi global dan prinsip keberlanjutan. Persiapan yang dilakukan secara matang dan komprehensif, termasuk sertifikasi ISCC, menjadi bukti bahwa SAF yang dihasilkan dari Kilang Dumai sudah memenuhi persyaratan keberlanjutan dan siap diperdagangkan di pasar global,” jelas Iwan.

Jajaran manajemen PT Pertamina Patra Niaga dan perwira Pertamina Kilang Dumai berfoto bersama saat Ceremonial Launching Produksi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) 5% Hydrocracker Co-Pro.

Capaian ini sekaligus mempertegas bahwa transformasi kilang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pada pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan dan memiliki daya saing di pasar internasional.

Kehadiran SAF berbahan baku minyak jelantah semakin memperkaya portofolio produk Kilang Dumai yang selama ini menghasilkan berbagai jenis bahan bakar dan produk turunan minyak bumi, mulai dari solar, avtur, Pertalite, Pertadex, hingga LPG dan green coke. Lebih dari sekadar menambah ragam produk, inovasi ini menandai langkah kilang dalam mengintegrasikan bahan baku terbarukan ke dalam proses pengolahan yang sudah berjalan. Upaya tersebut juga sejalan dengan agenda pemerintah untuk mendorong transisi energi sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di tengah tuntutan pengurangan emisi karbon.

Ke depan, pengembangan SAF menjadi bagian dari langkah Pertamina mendukung target pemerintah menerapkan mandatori penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan sebesar 1 persen pada 2027. Inisiatif ini juga sejalan dengan peta jalan Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) 2060, yang menargetkan bauran SAF mencapai 50 persen pada tahun tersebut. Dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku alternatif, Kilang Dumai berpotensi memainkan peran strategis dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan, mengurangi jejak karbon sektor penerbangan, serta menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah yang selama ini kerap terabaikan.

Dari minyak jelantah yang dikumpulkan hingga bahan bakar yang siap mendukung penerbangan, inovasi Kilang Dumai memperlihatkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari sumber yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan, menjaga konsistensi mutu produk, dan memperluas pemanfaatannya di industri aviasi. Jika seluruh mata rantai tersebut dapat berjalan beriringan, minyak jelantah bukan lagi sekadar limbah dapur, melainkan bagian dari peluang ekonomi sirkular yang mendukung masa depan penerbangan rendah karbon.

Dari pesisir Dumai, langkah menuju penerbangan yang lebih ramah lingkungan kini menemukan pijakannya. Minyak jelantah yang dahulu berakhir sebagai limbah, kini berpeluang terbang lebih jauh, membawa nilai ekonomi sekaligus harapan bagi pengurangan emisi karbon. Di tengah tuntutan dunia untuk beralih menuju energi yang lebih bersih, keberhasilan Kilang Dumai menjadi pengingat bahwa inovasi besar tak selalu bermula dari sumber daya yang mahal dan langka. Terkadang, masa depan energi justru berawal dari sesuatu yang selama ini dianggap tak lagi berguna.***

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BPKAD Rohil Kejar Pengembalian 15 Unit Mobil Dinas yang Masih Dipakai Mantan Pejabat

    BPKAD Rohil Kejar Pengembalian 15 Unit Mobil Dinas yang Masih Dipakai Mantan Pejabat

    • calendar_month Rabu, 23 Apr 2025
    • 0Komentar

    BAGANSIAPIAPI, KABARVIRAL– Sedikitnya 15 unit Mobil Dinas pemerintah kabupaten Rokan Hilir sampai saat ini masih dikuasai oleh mantan Bupati Rohil dan belum dikembalikan. Untuk menertibkan aset daerah itu, Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Rohil berupaya menyurati secara persuasif kepada yang bersangkutan untuk segera mengembalikan kepada pemerintah daerah untuk di inventarisasi. Menurut Kepala BPKAD […]

  • Kerja Sama Media Desa Diduga Dikuasai Satu Pihak, APDESI Rohil Disorot

    Kerja Sama Media Desa Diduga Dikuasai Satu Pihak, APDESI Rohil Disorot

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • 0Komentar

    ROHIL, KABARVIRAL – Dugaan praktik curang dalam pengelolaan Dana Desa kembali mencuat di Kabupaten Rokan Hilir. Kali ini, sorotan mengarah kepada Ketua APDESI Rohil, Azlita, yang juga menjabat sebagai Penghulu Sungai Kubu Hulu. Ia dituding memonopoli kerja sama media desa dengan menggiring dana miliaran rupiah hanya ke satu pihak. Program kerja sama media yang seharusnya […]

  • Manajemen PT ESM Bungkam Soal Dugaan Limbah, Begini Tanggapan DLH

    Manajemen PT ESM Bungkam Soal Dugaan Limbah, Begini Tanggapan DLH

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2024
    • 0Komentar

      Kabarviral, Dumai – Dugaan pencemaran air limbah oleh PT Energi Sejahtera Mas (PT ESM) di Kecamatan Sungai Sembilan, Dumai, terus menjadi sorotan publik. Namun, saat dikonfirmasi terkait video yang menunjukkan air limbah berwarna hitam dan putih di sekitar area perusahaan, pihak manajemen PT ESM terkesan enggan memberikan penjelasan yang jelas. Salah satu pihak manajemen […]

  • Kemenag Pekanbaru Musnahkan Ribuan Blanko Nikah, Ini Alasannya

    Kemenag Pekanbaru Musnahkan Ribuan Blanko Nikah, Ini Alasannya

    • calendar_month Sabtu, 7 Sep 2024
    • 0Komentar

      Kabarviral, Pekanbaru – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pekanbaru melakukan pemusnahan ribuan blanko nikah yang terdiri dari duplikat buku nikah dan kartu nikah pada Jumat (6/9/2024). Pemusnahan ini dipimpin oleh Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kantor Kemenag Pekanbaru, Rialis, di halaman Kantor Kemenag Pekanbaru. Sebanyak 345 buku nikah cetakan di bawah tahun 2022 dan 3.178 […]

  • Mutasi Besar-Besaran di Pemko Dumai, Ini Pernyataan Wako Paisal

    Mutasi Besar-Besaran di Pemko Dumai, Ini Pernyataan Wako Paisal

    • calendar_month Rabu, 9 Apr 2025
    • 0Komentar

    DUMAI, KABARVIRAL – Wali Kota Dumai H Paisal mendapat persetujuan Kemendagri untuk mutasi pejabat. Rolling digelar bulan ini, sejumlah jabatan strategis segera diisi. Wali Kota Dumai H Paisal mengonfirmasi bahwa Pemerintah Kota Dumai telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk melakukan mutasi dan rotasi pejabat pasca Pilkada. Penyegaran jajaran struktural ini disebut-sebut bakal […]

  • Wi-Fi Gratis di Kampung Baru, Dumai, Permudah Akses Digital Warga

    Wi-Fi Gratis di Kampung Baru, Dumai, Permudah Akses Digital Warga

    • calendar_month Selasa, 21 Jan 2025
    • 0Komentar

    DUMAI, KABARVIRAL – Pemerintah Kota Dumai kini menyediakan layanan Wi-Fi gratis di Kelurahan Kampung Baru sebagai bagian dari program digitalisasi dan pemerataan akses internet. Langkah ini menjadi wujud nyata komitmen Wali Kota Dumai, H. Paisal, untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi dan layanan pemerintahan. Fasilitas Wi-Fi ini difokuskan untuk mendukung kebutuhan warga dalam mengurus administrasi, […]

expand_less