Kisah Sukses Dari Kolam Mekar Mulia: Menjaga Gizi Anak Negeri, Menggerakkan Ekonomi Desa Gading Sari
- calendar_month Senin, 19 Okt 2026
- print Cetak

Ketua Pokdakan Mekar Mulia, Sugiarto (mengenakan batik biru), didampingi officer CSR PHR, Lidya Sari bersama anggota kelompok memperlihatkan hasil panen ikan lele segar dari kolam terpal di Desa Gading Sari, Tapung, Kampar, Riau. Sinergi antara kelompok pembudidaya dan program CSR PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) ini berhasil mewujudkan kemandirian ekonomi desa melalui budidaya perikanan yang terintegrasi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di tepi kolam, rona bahagia terpancar dari wajah warga Desa Gading Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. Jemari mereka lincah memilah hasil panen yang baru dijaring dari dalam air. Berada di kawasan Ring 1 operasional PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan, geliat budidaya lele ini tidak sekadar menjadi sumber penghasilan warga, tetapi turut menyokong nutrisi anak negeri lewat Makan Bergizi Gratis (MBG).
Laporan: IRMEN SANI, Tapung-Kampar
Keberhasilan ini digerakkan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mekar Mulia yang beranggotakan 10 orang. Saat ini, mereka mengelola lebih dari 50 kolam yang terdiri dari 10 kolam tanah, 15 kolam terpal dan sisanya kolam batu.
Capaian ini menjadi bukti lompatan besar dibandingkan masa awal berdirinya kelompok yang hanya mengandalkan lima kolam. Berkat ketekunan dan kepastian rantai pemasaran yang stabil, kelompok ini mampu mengantongi potensi omzet hingga Rp480 juta per tahun.
Di bawah peneduh eceng gondok yang sengaja disebar guna meredam sengatan panas ekstrem, lele-lele disemai dan disortir berkala guna meminimalisir sifat kanibalisme. Dalam tempo 2,5 bulan, lele siap dipanen dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 80 persen, menghasilkan 2 hingga 3 kuintal lele segar berukuran ideal sebanyak 7 ekor per kilogram.
Ikan-ikan berkualitas ini kemudian diangkut dan disalurkan secara rutin ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Yayasan Bakti Rumah Peduli Jateng. Melalui kemitraan ini, tak kurang dari 1 ton lele hasil panen Pokdakan Mekar Mulia dipasok setiap pekannya untuk diolah menjadi sajian lezat dan bergizi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ribuan siswa di belasan sekolah sekitar Kampar. Kepastian penyerapan pasar secara tunai (cash) ini tak hanya menjamin keberlanjutan roda bisnis kelompok, tetapi juga mempertegas peran penting warga Desa Gading Sari dalam mendukung pemenuhan gizi generasi penerus bangsa.
Dampak positif ini pun tak hanya dirasakan oleh para anggota kelompok. Dua kali seminggu, ibu-ibu rumah tangga di sekitar desa diajak turut terlibat untuk menyiangi dan membersihkan lele sebelum didistribusikan. Dari aktivitas ini, masing-masing ibu yang terlibat bisa memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp800 ribu per bulan, sehingga manfaat ekonomi keberadaan budidaya lele ini benar-benar menjangkau warga secara luas.

Penampakan deretan kolam terpal milik Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mekar Mulia di Desa Gading Sari, Kecamatan Tapung, Kampar, Riau. Uniknya, permukaan kolam ini sengaja dipenuhi dengan eceng gondok. Selain sebagai peneduh untuk mengurangi sengatan panas matahari dan menjaga suhu air tetap stabil, penggunaan tanaman air ini merupakan bagian dari inovasi pakan mandiri. Ketika panen, tanaman air ini dapat diolah menjadi campuran bahan pakan, membantu Pokdakan Mekar Mulia menekan biaya operasional pakan pabrikan yang tinggi.
Ketua Pokdakan Mekar Mulia, Sugiarto mengakui lompatan besar ini tidak lepas dari program pemberdayaan yang dilakukan PHR Zona Rokan melalui Community Involvement and Development (CID). Kehadiran inovasi pakan mandiri yang diinisiasi melalui program tersebut menjadi angin segar yang mengubah total nasib budidaya lele di Desa Gading Sari.
Sebelum beralih ke pakan racikan sendiri, tingginya harga pakan pabrikan acap kali melilit leher para pembudidaya dan menguras habis keuntungan panen. Kini, berkat pendampingan dan dukungan fasilitas dari PHR Zona Rokan, ganjalan utama tersebut berhasil diurai dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pakan mandiri ini dibuat memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah didapatkan seperti ikan rucah atau ikan asin, dedak, tepung kanji, kangkung hingga eceng gondok. Proses pembuatannya pun relatif mudah. Bahan baku ikan terlebih dahulu digiling menggunakan mesin penghancur, lalu dicampur dengan seluruh bahan lainnya sebelum akhirnya dimasukkan ke mesin pencetak pakan.
Sugiarto, mengungkapkan penggunaan pakan mandiri ini memberikan penghematan signifikan bagi kelompoknya.
“Penghematan pakan bisa sekitar 70 persen,” ujarnya.
Keunggulan pakan mandiri ini tak sekadar menekan biaya produksi, tetapi juga terbukti ampuh menjaga mutu dan tumbuh kembang ikan. Dengan pemberian pakan rutin sebanyak 30 kg pada pagi hari dan 30 kg di sore hari, lele-lele dapat tumbuh sehat dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 80 persen hingga masa panen dalam kurun waktu 2,5 bulan.
Dampak finansial dari penghematan ini terasa sangat nyata bagi kas kelompok. Dari pemangkasan pembelian pakan pabrikan saja, Pokdakan Mekar Mulia mampu menghemat anggaran sekurang-kurangnya Rp12 juta setiap tahunnya. Dana yang tadinya tersedot untuk pakan pabrikan kini dapat diputar kembali menjadi modal pengembangan kolam, menjaga perputaran modal usaha, serta memperkuat daya tahan ekonomi kelompok dari fluktuasi harga pasar.
Kendati demikian, proses pembesaran ikan tetap menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait kondisi cuaca dan sifat alami lele.
Pada tahap pembibitan, bibit lele yang telah dipelihara sekitar tiga pekan harus dipilah berdasarkan ukurannya.
Sugiarto menjelaskan, pemilahan berkala ini penting untuk mencegah kanibalisme lele yang cenderung memangsa sesamanya yang berukuran lebih kecil sehingga angka kematian dapat ditekan dan pertumbuhan ikan tetap merata.
Kini, hasil panen Pokdakan Mekar Mulia memiliki kepastian pasar yang sangat jelas. Ikan-ikan segar hasil budidaya ini disalurkan secara rutin untuk memenuhi kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Yayasan Bakti Rumah Peduli Jateng sebagai bagian dari pilar program MBG.
Ketua SPPG Yayasan Bakti Rumah Peduli Jateng, Hardi Purwanto, menegaskan komitmen pihaknya dalam mengawal serta mendukung penuh pengembangan budidaya ikan lokal tersebut. Bagi Hardi, sinergi yang terjalin bukan sekadar urusan jual-beli komoditas harian, melainkan jembatan kolaborasi yang saling menguatkan antara pemberdayaan ekonomi warga desa dan pemenuhan gizi generasi muda di tanah Kampar.
Keberadaan pasokan lele segar dari Pokdakan Mekar Mulia sangat membantu kelancaran operasional dapur SPPG. Setiap pekannya, tak kurang dari 1 ton lele segar diangkut dari kolam-kolam warga menuju dapur pelayanan SPPG. Hardi mengungkapkan, pasokan rutin ini didistribusikan secara berkala untuk memenuhi kebutuhan gizi 2.553 murid yang tersebar di 13 sekolah, mulai dari jenjang TK hingga SMA. Bagi SPPG, kepastian pasokan dari kelompok lokal membuat rantai pasok bahan pangan menjadi jauh lebih efisien, terjamin kesegarannya, serta terjaga mutunya.
Tak hanya itu, kerja sama ini juga menerapkan sistem pembayaran secara tunai (cash). Hardi menekankan bahwa skema transaksi langsung ini sengaja diterapkan guna menjaga kesehatan perputaran modal kelompok agar para pembudidaya tidak terkendala kemacetan arus kas. “Dengan adanya jaminan penyerapan pasar yang pasti dan transparan dari SPPG, Pokdakan Mekar Mulia dapat terus fokus meningkatkan kapasitas produksi tanpa perlu risau dibayangi fluktuasi harga atau ketidakpastian pasar,” ujar Hardi.

Anggota Pokdakan Mekar Mulia bersama pendamping mempraktikkan proses pembuatan pelet pakan lele menggunakan mesin pencetak pakan di Desa Gading Sari, Tapung, Kabupaten Kampar. Pengolahan bahan lokal seperti ikan rucah atau ikan asin, dedak, tepung kanji, kangkung hingga eceng gondok ini berhasil memangkas biaya pakan hingga 70 persen dan menghemat operasional hingga Rp12 juta per tahun.
Program pemberdayaan masyarakat yang bergulir di Desa Gading Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, tidak sekadar berfokus pada peningkatan ekonomi semata, melainkan dirancang untuk menciptakan multiplier effect yang berkelanjutan. Melalui program Community Involvement and Development (CID), PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan terus konsisten mendampingi masyarakat di kawasan sekitar wilayah operasionalnya agar tumbuh menjadi kelompok yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Komitmen tersebut tercermin dari pendampingan intensif yang diberikan kepada Pokdakan Mekar Mulia. Officer CSR PHR Zona Rokan, Lidya Sari, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bentuk investasi sosial perusahaan yang berorientasi pada kemandirian jangka panjang. PHR hadir tidak hanya memberikan bantuan fisik dan stimulan awal sebanyak 30 ribu bibit lele, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi lokal yang menjawab akar permasalahan warga, terutama dalam mengatasi beban tingginya biaya pakan pabrikan lewat pelatihan dan penyediaan mesin pakan mandiri berbasis bahan lokal.
Lebih lanjut Lidya menilai keberhasilan Pokdakan Mekar Mulia memangkas biaya pakan hingga 70 persen membuktikan efektifitas program pemberdayaan berbasis potensi daerah. Inovasi pakan ramah lingkungan ini tidak hanya mendongkrak margin keuntungan pembudidaya, tetapi juga menjaga mutu dan tumbuh kembang lele secara optimal. Alhasil, kemandirian pakan tersebut memberikan ketahanan ekonomi yang kokoh bagi kelompok dalam menghadapi fluktuasi harga pasar yang kerap menjadi momok bagi para pembudidaya.
Dampak nyata dari program ini kian luas berkat terjalinnya sinergi strategis antara Pokdakan Mekar Mulia dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bakti Rumah Peduli Jateng. Menurut Lidya, penyerapan panen lele hingga 1 ton per minggu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan capaian luar biasa. Kemitraan tersebut membuktikan bahwa hasil karya kelompok binaan CSR PHR mampu memberikan kontribusi sosial yang luas.
Guna mmemperkuat mata rantai budidaya secara menyeluruh, PHR Zona Rokan akan melangkah ke tahap pendampingan berikutnya. Lidya mengungkapkan bahwa kedepan pihaknya akan mempersiapkan pelatihan khusus pembibitan lele secara mandiri bagi anggota kelompok. Langkah strategis ini bertujuan agar Podakan Mekar Mulia tidak lagi bergantung pada pasokan bibit luar sehingga rantai produksi dari hulu ke hilir dapat dikuasai secara penuh dan efisiensi usaha menjadi optimal.
Melihat keberhasilan tersebut, Lidya berharap kisah sukses dari Desa Gading Sari dapat menjadi inspirasi sekaligus percontohan bagi wilayah lainnya . Melalui kolaborasi erat antara perusahaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan, operasional hulu migas Pertamina diharapkan dapat terus menghadirkan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga sekaligus kesehatan generasi penerus bangsa.**
- Penulis: Redaksi




